 | DPP PDIP ‘Restui’ Paket Wita-Sumer | DPP PDIP sudah merampungkan survei kandidat Calon Bupati (Cabup)-Calon Wakil Bupati (Cawabup) Badung untuk diadu ke Pilkada, 4 Mei 2010. Kabarnya, DPP PDIP merekomendasikan duet Prof Dr dr Wayan Wita-Made Sumer sebagai paket Cabup-Cawabup Badung. Sementara di Denpasar, tokoh Puri Gerenceng-Pemecutan Anak Agung Ngurah Agung tegaskan kesiapannya maju ke Pilkada 2010 sebagai Calon Walikota (Cawali) jalur Independen. Informasi terkini yang dihimpun NusaBali di lingkaran PDIP, Minggu (29/11), hasil survei yang dilakukan tim DPP PDIP menempatkan figur independen Prof Dr dr Wayan Wita (akademisi Unud) di rating teratas posisi Cabup Badung. Sedangkan kader internal Made Sumer (Ketua DPC PDIP yang kini Ketua DPRD Badung) jadi pilihan utama di posisi Cawabup. Karena itu, menurut sumber tadi, hampir dipastikan PDIP akan mengusung paket Prof Wita-Made Sumer guna menghadapi calon iundependen dari Golkar, AA Gde Agung-Ketut Sudikerta, dalam Pilkada Badung 2010. “Kabar terbaru dari DPP PDIP seperti itu. Made Sumer maju sebagai tugas partai untuk menempati posisi Cawabup, sedangkan Prof Wita dipercaya menduduki posisi Cabup,” ujar sumber yang enggan disebut namanya ini. Jika ternyata rekomendasi DPP PDIP jatuh ke tangan Prof Wita-Made Sumer sebagai paket Cabup-Cawabup Badung, menurut dia, kader di bawah siap mendukungnya. Pasalnya, paket kombinasi non kader-kader Prof Wita-Made Sumer ini dianggap paling potensial menghadapi calon incumbent AS (Gde Agung-Sudikerta). “Prof Wita dianggap bisa memberikan yang terbaik dan layak jual, meskipun dia calon independen,” katanya. Mengusung figur yang punya nilai jual macam Prof Wita, imbuh dia, sangat pas. Apalagi, paket incumbent AS yang akan dihadapinya nanti cukup tangguh. Bahkan, ada kemungkinan calon incumbent Gde Agung-Sudikerta akan diusung bersama Golkar dan Demokrat, setelah terciptanya koalisi Kuning-Biru. Hanya saja, hingga Minggu kemarin, belum ada petinggi DPC PDIP Badung yang berhasil dikonfirmasi soal informasi jatuhnya rekomendasi untuk paket Prof Wita-Made Sumer ini. Yang pasti, Prof Wita sendiri sebelumnya maju memperebutkan tiket Cabup di Rakercabsus PDIP, bersaing dengan dua kader internal: IBG Suryatmaja (mantan Wakil Ketua DPRD Bali) dan I Gde Adnyana (mantan Ketua DPRD Badung), serta figur independen Made Nariana (Ketua KONI Bali). Saat dilakukan tabulasi dalam Rakercabsus sebulan lalu, Nariana tampil sebagai jawara dengan raihan suara terbanyak. Namun, menurut sumber NusaBali, berdasarkan hasil survei DPP PDIP, Nariana hanya menduduki posisi keempat di bawah Prof Wita, IBG Suryatmaja, dan Gde Adnyana. Semula, PDIP sempat diwacanakan akan berkoalisi dengan Demokrat untuk Pilkada Badung 2010. Meski koalisi sudah disepakati, Demokrat pilih kabur dan beralih merapat ke Golkar. Alasannya, Demokrat terlalu lama menunggu PDIP yang tak kunjung memberikan kepastian soal calon ke Pilkada. Padahal, sesuai skenario, jika koalisi PDIP-Demokrat terwujud, Prof Wita akan diduetkan dengan IGN Rai Putrayasa (politisi Demokrat) di posisi Cawabup. Di sisi lain, DPC Demokrat Badung kini tinggal menunggu restu dari DPP Demokrat untuk berkoalisi dengan Golkar ke Pilkada 2010. Langkah strategis untuk koalisi Kuning-Biru sebetulnya sudah terjadi, ditandai manuver figur incumbent AA Gde Agung (yang notabene Bupati Badung milik Golkar) mendaftar nyalon bupati di Demokrat. Ketua DPC Demokrat Badung, IGN Anom Adiputra, menyatakan sejauh ini belum ada deal koalisi dengan Golkar, karena masih menunggu restu dari tingkat pusat. “Saya baru bisa memastikan 50 persen koalisi dengan Golkar. Kami menunggu restu dari DPP,” ujar Anom Adiputra kepada NusaBali, Minggu kemarin. Anom Adiputra juga membantah Demokrat akan langsung mengusung paket incumbent Gde Agung-Sudikerta. Pasalnya, Tim 9 masih melakukan survei beberapa figur yang telah mendaftar nyalon di Demokrat. “Tidak bisa bilang seperti itu. Kalau koalisi resmi, nanti ditandai dengan deklarasi,” katanya. Sejauh ini, Golkar dan Demokrat baru deal koalisi di Pilkada Denpasar dan Pilkada Tabanan 2010. Deklarasi koalisi Kuning-Merah di Denpasar sudah dilakukan sepekan lalu, di mana Golkar-Demokrat kemungkinan besar akan mengusung Wayan Subawa sebagai Cawali. Sedangkan deal koalisi Kuning-Merah di Tabanan baru ditandatangani petinggi Golkar dan Demokrat, Sabtu (28/11). Sementara itu, tokoh Puri Gerenceng-Pemecutan, Anak Agung Ngurah Agung, memastikan maju sebagai Cawali Denpasar melalui jalur Independen. Ngurah Agung siap bertarung menghadapi calon incumbent dari PDIP, IB Rai Dharmawijaya Mantra, dan calon yang kemungkinan diusung koalisi Golkar-Demokrat: Wayan Subawa. Ngurah Agung menegaskan, keputusannya maju melalui jalur Independen dilandasi rasa prihatin, karena tak ada tokoh non-kader yang berani maju sendiri. Mereka semua nebeng melalui parpol untuk maju ke Pilkada. Bahkan, Ngurah Agung sendiri mengaku sempat mendapat tawaran sebagai Cawali Denpasar dari parpol-parpol gurem yang sudah mulai menggalang kekuatan. Tapi, tawaran itu ditolaknya karena Ngurah Agung ingin maju lewat kran Independen. “Saya hanya ingin maju lewat jalur Independen saja. Biar ada orang independen yang maju secara perseorangan, agar demokrasi itu tidak dikuasai oleh parpol besar saja,” jelas Ngurah Agung kepada NusaBali di Denpasar, Minggu kemarin. Menurut Ngurah Agung, sebagai bukti kesiapannya maju ke Pilkada Denpasar 2010, timnya sudah mulai bergerilya, termasuk mencari pendamping di posisi Cawawali (Calon Wakil Walikota). Meski tidak menyebutkan secara terinci, namun nama I Made Arjaya (kader PDIP) dan Rektor Undiknas Prof Dr Gede Sri Darma ST MM (independen) sudah nominasi untuk dipinang sebagai Cawawali. Ditambahkan Ngurah Agung, timnya juga sudah mendekati tokoh-tokoh lain yang dianggap potensial diajak kolaborasi untuk mengalahkan calon-calon dari parpol. “Tapi, hingga kini namanya belum definitif. Memang banyak yang sudah siap untuk saya ajak, tapi saya ‘kan harus mencari yang paling cocok,” tandas Ketua Persaudaraan Hindu Muslim Bali (PHMB) yang juga Sekjen DPP PKB Gus Dur ini. Dikonfirmasi terpisah, Ketua DPC PNIM Denpasar Ketut Resmiyasa yang gencar menggalang koalisi paprol gurem, mengaku belum pernah mendekati Ngurah Agung. Yang jelas, menurut Resmiyasa, kandidat Cawali yang akan diusungnya bukanlah Ngurah Agung. “Bukan dia yang akan kita usung. Pokoknya ada-lah,” tepis Resmiyasa. Di sisi lain, Cawali-Cawawali yang akan manuju ke Pilkada Denpasar 2010 melalui jalur Independen, harus bekerja lebih keras. Soalnya, mereka harus berpacu melawan waktu hingga 6 Januari 2010 untuk mendaftar ke KPU berikut segala persyaratannya dengan komplet. Jika deadline 6 Januari dilanggar, dianggap tidak ada calon dari Independen ke Pilkada. Menurut Ketua KPU Denpasar, Made Gede Ray Misno, tahapan bagi calon Independen sudah dimulai 22-23 Desember 2009 dengan deklarasi calon. Tahap berikutnya, 24-30 Desember 2009, calon Independen bisa mengambil formulir dukungan. Untuk Kota Denpasar, dukungan calon independen minimal 24.000 KTP. Tahap ketiga untuk pendaftaran berikut penyerahan syarat dukungan ini ke KPU adalah 31 Desember 2009 hingga 6 Januari 2010. Sebaliknya, tahapan bagi calon dari parpol lebih leluasa waktunya, karena baru dimulai 28 Januari 2009 sampai 3 Februari 2010. Menurut Ray Misno, calon Independen harus lebih awal tahapannya, karena perlu waktu panjang untuk verifikasi dukungan. “Verifikasi dukungan itu yang butuh waktu lama,” katanya. 7 zu,di DENPASAR, NusaBali Senin, 30 November 2009
|